SAMARINDA — Hidup kerap menempatkan seseorang pada persimpangan penuh tantangan. Namun bagi mereka yang memiliki keberanian dan keteguhan hati, keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah perjuangan panjang.
Itulah gambaran perjalanan hidup Syafruddin, sosok yang akrab disapa Bang Udin. Ia adalah bukti nyata bahwa latar belakang sederhana tak pernah membatasi langkah seseorang untuk mencapai puncak pengabdian. Dari anak petani bawang merah dan buruh pelabuhan, kini ia dipercaya rakyat sebagai Anggota DPR RI.
Syafruddin lahir dan tumbuh di sebuah desa terpencil di kaki Gunung Parewa, Desa Sakuru, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Masa kecilnya jauh dari kemewahan.
Lingkungan keras membentuk karakternya ia dikenal usil dan keras kepala, namun menyimpan keberanian yang besar. Sejak kecil, ia diasuh oleh sang nenek yang menanamkan nilai kemandirian dan daya juang.
“Saya dibesarkan oleh keadaan. Hidup mengajarkan saya untuk tidak bergantung pada siapa pun,” kenangnya.
Dengan tekad bulat, Syafruddin meninggalkan kampung halamannya. Tanpa bekal materi, ia merantau hanya berbekalkan keberanian dan harapan untuk mengubah nasib. Angin laut menjadi saksi saat ia menaiki kapal barang bermuatan bawang merah menuju Kalimantan Selatan sebuah perjalanan yang kelak mengubah hidupnya.
Setibanya di Banjarmasin, ia bekerja sebagai buruh bawang merah di pelabuhan. Hidup berpindah-pindah tempat, bekerja dari pagi hingga malam demi sekadar bertahan hidup. Dunia terasa keras, namun ia tak pernah berpikir untuk menyerah.
Perjalanannya berlanjut ke Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Di sana, Syafruddin bekerja sebagai penjaga tambak. Hari-harinya diisi lumpur, panas matahari, dan kesunyian jauh dari hiruk-pikuk kota, apalagi dunia politik.
Namun takdir membawanya kembali melangkah. Ia kemudian menuju Kota Samarinda, dan kembali menjadi buruh di pelabuhan peti kemas di Kecamatan Palaran. Pekerjaan fisik yang menguras tenaga itu justru melahirkan kesadaran penting dalam hidupnya.
“Saya sadar, kalau ingin mengubah hidup, jalannya adalah pendidikan,” ujarnya.
Syafruddin pun memutuskan menempuh pendidikan formal di Universitas Mulawarman, Samarinda. Ia tak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga aktif dalam berbagai organisasi mahasiswa, baik internal maupun eksternal kampus. Dari sanalah cakrawala berpikirnya terbuka lebar.
Perjalanannya di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menjadi titik balik pembentukan jiwa kepemimpinannya. Proses panjang dan dedikasi tanpa pamrih mengantarkannya dipercaya menjadi Ketua Cabang PMII Kota Samarinda.
“Organisasi mengajarkan saya tentang tanggung jawab, keberanian bersikap, dan arti memperjuangkan kepentingan orang banyak,” tuturnya.
Selepas itu, Syafruddin melangkah ke dunia politik. Ia memilih Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang menurutnya menjunjung tinggi nilai toleransi dan keberagaman tanpa diskriminasi suku, agama, maupun ras.
Langkah politiknya tidak langsung mulus. Pada Pemilu 2009–2014, ia mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kalimantan Timur dari Dapil Samarinda, namun belum berhasil. Kegagalan itu justru memperkuat mentalnya.
“Kalah itu bukan akhir, tapi pelajaran untuk bangkit lebih kuat,” katanya.
Kerja keras dan ketekunan akhirnya membuahkan hasil. Pada periode 2014–2019, Syafruddin terpilih sebagai anggota DPRD Kalimantan Timur dari Dapil VI (Bontang, Kutai Timur, dan Berau). Kepercayaan rakyat kembali ia raih pada Pemilu 2019–2024 dari Dapil Balikpapan, daerah yang dikenal sebagai dapil “berat” bagi banyak politisi.
Meski berasal dari dapil berbeda, Syafruddin menegaskan pengabdiannya tidak pernah dibatasi wilayah.
“Saya bekerja bukan untuk satu daerah, tapi untuk seluruh rakyat Kalimantan Timur,” tegasnya.
Puncak pengabdian itu tercapai saat ia terpilih sebagai Anggota DPR RI periode 2024–2029 dari Dapil Kalimantan Timur. Di Senayan, Syafruddin bergabung dengan Komisi XII DPR RI, yang membidangi energi, sumber daya mineral, lingkungan hidup, dan investasi.
Fokus perjuangannya kini tertuju pada persoalan krusial di Kalimantan Timur: reklamasi pascatambang yang diabaikan perusahaan, percepatan elektrifikasi desa, serta pembangunan infrastruktur jalan nasional.
“Sumber daya alam harus memberi manfaat sebesar-besarnya untuk rakyat, bukan meninggalkan luka bagi lingkungan,” ungkapnya lantang.
Perjalanan panjang dari desa terpencil hingga kursi DPR RI adalah bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang bagi mereka yang mau berjuang.
Kisah Syafruddin menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa kerja keras, pendidikan, dan keberanian untuk bangkit dari kegagalan akan selalu membuka jalan menuju perubahan. (*)










