JAKARTA – Memasuki usia ke-79, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menegaskan arah gerak barunya dengan mengangkat kembali warisan pemikiran tokoh pembaharu Islam, Nurcholish Madjid atau Cak Nur. Dalam peringatan yang digelar di BRP SMESCO Convention Hall, Jakarta, organisasi mahasiswa ini secara resmi mengusulkan Cak Nur untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Ketua Pelaksana Dies Natalis ke-79 HMI, Raihan Fudloli, menyebut usulan tersebut sebagai bentuk penghormatan atas jejak intelektual dan kontribusi besar Cak Nur dalam membentuk tradisi berpikir kritis di kalangan mahasiswa.
“Pengusulan ini adalah bentuk penghargaan atas dedikasi dan gagasan besar Cak Nur bagi perkembangan pemikiran Islam dan kebangsaan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (2/3/2026).
“Kami mendukung penuh Nurcholish Madjid (Cak Nur) sebagai pahlawan nasional,” sambungnya.
Cak Nur sendiri pernah menakhodai PB HMI pada periode 1966–1969. Pada masa kepemimpinannya, HMI diarahkan menjadi organisasi kader yang menonjolkan kekuatan intelektual, menjunjung moderasi, dan terbuka terhadap perbedaan pandangan.
Ia mendorong budaya diskusi, kajian ilmiah, serta tradisi menulis sebagai fondasi gerakan mahasiswa yang rasional dan inklusif.
Tak berhenti pada refleksi sejarah, HMI juga menegaskan komitmen sosialnya. Dalam rangkaian dies natalis, organisasi ini menyalurkan bantuan pendidikan kepada 97 kader yang terdampak bencana di Aceh dan Sumatra sebagai bentuk solidaritas nyata.
Ketua Umum PB HMI, Bagas Kurniawan, menekankan bahwa perhatian terhadap kader merupakan tanggung jawab moral organisasi.
“Kader adalah aset strategis dan harapan masa depan HMI. Kami ingin memastikan mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan dan proses kaderisasi,” katanya.
Bagas menegaskan bahwa organisasi mahasiswa Islam tertua ini tidak hanya hadir dengan rencana saja. Akan tetapi, hadir dengan aksi nyata.
“HMI harus hadir bukan hanya dalam wacana, tetapi juga melalui aksi nyata yang dirasakan langsung oleh kader dan masyarakat,” tegasnya.
Mengusung tema “Khidmat HMI untuk Indonesia”, peringatan ini menjadi penegasan bahwa perjuangan intelektual dan pengabdian sosial harus berjalan beriringan, agar HMI tetap relevan menjawab tantangan zaman sekaligus setia pada cita-cita keumatan dan kebangsaan. (*)











