BERAU – Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menyoroti belum rampungnya proses penggabungan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Berau ke Universitas Muhammadiyah (UM) Berau. Menurutnya, merger tersebut merupakan langkah strategis yang berpotensi besar memperkuat kualitas pendidikan tinggi sekaligus meningkatkan minat masyarakat untuk melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi.
Hetifah menilai, penggabungan institusi pendidikan bukan sekadar penggabungan administrasi, tetapi menjadi momentum transformasi menyeluruh dalam pengelolaan kampus. Ia mencontohkan keberhasilan proses serupa yang pernah dilakukan di daerah lain, yang terbukti mampu memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan.
“Pengalaman merger sebelumnya menunjukkan hasil yang baik. Setelah penggabungan dilakukan, minat masyarakat untuk kuliah justru meningkat,” ujar Hetifah saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Berau.
Ia menjelaskan, melalui merger, STIPER Berau memiliki peluang lebih luas untuk melakukan pembenahan tata kelola, peningkatan mutu akademik, serta penguatan sumber daya manusia, baik dosen maupun tenaga kependidikan.
“Dengan bergabung ke universitas yang lebih besar, kualitas pengelolaan kampus bisa ditingkatkan, termasuk peningkatan kompetensi dosen dan sistem manajemen yang lebih profesional,” jelasnya.
Lebih jauh, Hetifah mendorong agar STIPER Berau tidak hanya terpaku pada bidang pertanian konvensional. Ia menyarankan pengembangan program studi baru yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan minat generasi muda saat ini.
“Harus diakui, tidak semua anak muda tertarik ke pertanian. Karena itu, pembukaan program studi seperti bisnis digital bisa menjadi alternatif yang relevan dan diminati,” katanya.
Selain itu, Hetifah melihat potensi besar kolaborasi antara sektor pertanian dan teknologi mutakhir, termasuk pemanfaatan artificial intelligence (AI). Kabupaten Berau, menurutnya, memiliki komoditas unggulan yang dapat dikembangkan dengan pendekatan teknologi modern.
“Pertanian sekarang bisa dikolaborasikan dengan AI untuk meningkatkan produktivitas. Berau punya potensi cokelat yang sangat bagus dan bisa dikembangkan dengan teknologi,” ungkapnya.
Meski mendukung merger, Hetifah menekankan pentingnya dialog terbuka untuk merespons kekhawatiran yang masih muncul dari kalangan mahasiswa maupun civitas akademika. Ia meminta agar seluruh aspirasi didengar dan dibahas secara konstruktif.
“Kekhawatiran mahasiswa dan akademisi perlu diakomodasi. Jangan sampai perbedaan pandangan justru menghambat kemajuan pendidikan,” tegasnya.
Ia berharap persoalan merger STIPER Berau dan UM Berau dapat diselesaikan secara internal. Namun demikian, Komisi X DPR RI menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi mediasi jika dibutuhkan.
“Kami berharap bisa diselesaikan dengan baik secara internal. Tetapi jika diperlukan, Komisi X siap membantu proses mediasi,” pungkasnya. (*)










