BERAU – Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Berau kembali menuai perhatian. Beragam program yang telah dijalankan sejauh ini dinilai belum memberikan hasil signifikan dalam menurunkan kasus, sehingga diperlukan evaluasi dan pembaruan strategi secara serius.
Wakil Ketua I DPRD Berau, Subroto, menilai pendekatan yang diterapkan selama ini belum menyentuh persoalan utama. Ia menegaskan bahwa stunting bukanlah masalah sederhana yang bisa diselesaikan dengan satu jenis intervensi saja.
Menurutnya, faktor penyebab stunting sangat beragam, mulai dari asupan gizi, pola pengasuhan dalam keluarga, kondisi sanitasi lingkungan, hingga tingkat pemahaman masyarakat terkait kesehatan. Karena itu, penanganannya harus dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan.
“Masalah ini tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Banyak aspek yang saling berkaitan,” ujarnya.
Ia juga menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap program-program yang telah berjalan. Tanpa pembaruan strategi yang lebih terintegrasi, upaya yang dilakukan berpotensi hanya menjadi rutinitas tanpa dampak nyata di lapangan.
Selain itu, Subroto mendorong adanya inovasi dalam pelaksanaan program, agar intervensi yang dilakukan benar-benar tepat sasaran dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Jangan sampai program hanya sebatas formalitas tanpa hasil yang jelas,” tegasnya.
Langkah penting lainnya adalah melakukan pemetaan wilayah dengan tingkat kerawanan stunting secara detail dan berbasis data yang akurat. Dengan pendekatan ini, setiap kebijakan dan program dapat disesuaikan dengan kondisi spesifik masing-masing daerah.
Ia juga menilai pendekatan berbasis komunitas memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Keterlibatan kader posyandu, tokoh agama, serta tokoh adat dinilai efektif karena mereka memiliki kedekatan langsung dengan warga.
“Peran mereka sangat strategis dalam menyampaikan edukasi agar lebih mudah diterima,” jelasnya.
Tak hanya itu, pemanfaatan teknologi informasi juga perlu dioptimalkan, khususnya untuk memantau pertumbuhan anak secara berkala hingga ke tingkat kampung dan kelurahan. Dengan sistem pemantauan yang baik, potensi stunting dapat dikenali sejak dini.
Dari sisi dukungan, DPRD Berau juga mendorong peningkatan anggaran, baik untuk pelaksanaan program maupun untuk tenaga lapangan seperti kader posyandu dan penyuluh kesehatan yang berperan langsung di masyarakat.
Subroto menegaskan bahwa penanganan stunting memerlukan kolaborasi lintas sektor. Tidak hanya sektor kesehatan, tetapi juga pendidikan, infrastruktur, serta dukungan dari dunia usaha dan masyarakat secara luas.
“Ini menyangkut masa depan generasi Berau. Semua pihak harus terlibat dan bergerak bersama,” pungkasnya. (ADV)











