BERAU – Pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Berau diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memastikan keberadaan destinasi mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dalam jangka panjang.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau kini menjadikan 65 daya tarik wisata yang telah ditetapkan pemerintah daerah sebagai salah satu pijakan dalam menyusun arah pengembangan pariwisata yang lebih terukur dan berkelanjutan.
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantoso, menuturkan pengelolaan pariwisata membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah daerah, kata dia, tidak dapat menjadi satu-satunya aktor dalam mengembangkan potensi wisata yang tersebar di berbagai wilayah Berau.
“Potensi pariwisata kita sangat beragam, sehingga pengembangannya harus menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, akademisi, media hingga pihak swasta perlu mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing,” ujarnya.
Ia menjelaskan, 65 daya tarik wisata tersebut ditetapkan melalui Surat Keputusan Bupati Berau Nomor 143 Tahun 2026 tentang Penetapan Daya Tarik Wisata. Destinasi itu tersebar di 13 kecamatan dengan karakteristik yang berbeda.
Dari jumlah tersebut, terdapat 35 destinasi wisata alam, 12 wisata budaya, dan 18 wisata buatan. Komposisi tersebut dinilai menjadi modal penting bagi Berau untuk mengembangkan produk wisata yang lebih beragam.
Menurut Yudha, penetapan destinasi bukan sekadar pendataan, melainkan menjadi dasar untuk menentukan pola pengelolaan dan pengembangan masing-masing kawasan.
“Setiap destinasi mempunyai kekuatan dan persoalan yang berbeda. Karena itu, pendekatan pengembangannya tidak bisa disamaratakan. Kita harus melihat kondisi, potensi, serta kebutuhan masing-masing destinasi,” jelasnya.
Pengembangan tersebut juga berkaitan dengan potensi Berau dalam kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. Dari total 26 geosite yang berada dalam kawasan geopark, 15 di antaranya terdapat di Kabupaten Berau.
Yudha menyebut keberadaan geosite memiliki peluang besar untuk dikembangkan lebih luas. Tidak hanya sebagai objek kunjungan wisata, kawasan tersebut juga dapat menjadi ruang edukasi sekaligus mendorong aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.
“Geosite harus kita lihat sebagai aset yang memiliki banyak fungsi. Wisata memang menjadi salah satunya, tetapi nilai edukasi, pemberdayaan masyarakat dan manfaat ekonominya juga harus diperkuat tanpa mengabaikan aspek pelestarian,” katanya.
Disbudpar Berau berharap pengelolaan destinasi berbasis kolaborasi dan keberlanjutan dapat meningkatkan daya saing pariwisata daerah.
“Jadi hal ini diharapkan mampu membuka peluang usaha serta memberikan dampak yang lebih nyata bagi masyarakat lokal,” tandasnya. (ADV/33)











