AGAM — Pada suatu pagi yang tak lagi sama, Salareh Aia berdiri seperti wilayah yang kehilangan napas. Tidak ada suara kehidupan, hanya gemerisik lumpur yang mengeras, kayu gelondongan yang saling bersandar seperti raksasa tumbang, serta aroma tanah basah yang menyimpan duka.
Di hamparan reruntuhan itu, tim SAR gabungan bergerak pelan, menapaki jalur yang dulu mungkin jalan desa, halaman rumah, atau pematang sawah, namun kini berubah menjadi puzzle bencana yang sulit dikenali.
Banjir bandang yang melanda Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, bukan sekadar air yang meluap. Ia datang membawa bongkahan batu, pepohonan utuh, lumpur setinggi pinggang, dan kekacauan yang tak memberi kesempatan warga untuk sekadar menoleh ke belakang.
Di sanalah Salah satu anggota Emergency Response Team PT BBE dan KMIA, Elga Eka Eklian menjalankan tugas yang tak pernah bisa dipersiapkan sepenuhnya oleh teori apa pun: mencari manusia yang hilang di antara puing.
Sejak 5 hingga 11 Desember 2025, hari-hari Elga dipenuhi suara koordinasi, dengung alat berat yang sesekali bisa masuk, dan aroma genangan yang menua.
“Rumah, sawah, semuanya rata. Yang tersisa hanya lumpur dan tumpukan kayu,” ujar Elga, menahan jeda sebelum melanjutkan.
Ada saat ketika harapan dan rasa putus asa berjalan pelan berdampingan. Titik-titik yang diduga menjadi lokasi korban sering sulit dibuka karena material terus bergerak. Kadang, bukan mata yang menemukan tanda keberadaan korban melainkan hidung.
“Kami yakin ada korban di satu titik, tapi tidak bisa langsung evakuasi karena alat berat tidak bisa menjangkau pinggiran sungai,” kisahnya.
Bahaya tidak hanya datang dari longsoran susulan. Lumpur bisa menghisap kaki, paku dari serpihan rumah siap menusuk kapan saja, dan semak belukar menyembunyikan koloni tawon yang menyerang jika terganggu.
Namun usaha itu tak sia-sia. Di Jalan Padang Koto Gadang, tim Bravo berhasil menemukan lima korban dalam satu lokasi yang sama. Korban pertama ditemukan pukul 11.16. Disusul pukul 14.40, lalu tiga korban lainnya pukul 15.40 – satu per satu, perlahan, dengan penuh hormat.
“Haru, sedih, tapi juga lega. Setidaknya mereka pulang,” kata Elga pelan.
Setiap hari dimulai dengan briefing besar bersama Basarnas, membagi personel, memetakan risiko, dan menjaga ritme kerja. Alat berat disiagakan, didukung perusahaan di bawah Kementerian ESDM untuk mengurai material yang menggunung.
Namun kerja ini bukan semata tentang teknik dan kekuatan fisik. Ini tentang stamina jiwa.
“Kami wajib tidur cukup, makan, vaksin tetanus, konsumsi vitamin, bahkan konseling,” ucapnya dengan pelan.
“Karena medan bisa dilawan, rasa duka sering kali lebih berat,” sambungnya.
PT BBE dan KMIA menurunkan lima personel yakni Hairuddin Nur, Elga Eka Eklian, Busri, Parijan Abadi, dan Suwanto. Mereka datang bukan hanya membawa kemampuan teknis, tetapi juga empati hal yang paling dibutuhkan di tengah kehancuran.
Di akhir kisahnya, Elga menarik satu pesan sederhana namun kuat, diantara reruntuhan yang kini kian sunyi, pesan itu seolah menggantung menjadi pengingat bahwa di balik setiap tragedi, selalu ada perjuangan sunyi mereka yang menjaga harapan tetap hidup.
“Bencana tidak pernah memilih waktu. Manusialah yang harus siap,” pungkas kisahnya. (*)









