gubernurkaltim
wakilgubernurkaltim
banner 728x250

Kabut Asap Menyelimuti Kaltim, Mahasiswa Kehutanan Unmul Gelar Aksi Pencerdasan dan Bagikan Masker

banner 728x250

SAMARINDA — Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Timur mendorong mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul) turun ke ruang publik. HMI Komisariat Kehutanan Unmul bersama LEM Sylva Mulawarman dan BEM FMIPA Unmul menggelar aksi pencerdasan serta pembagian masker pada Rabu (23/9/2026).

Mengusung semangat “Kaltim Darurat Bencana”, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan keresahan sekaligus mengajak masyarakat memahami kondisi lingkungan yang terjadi.

Aksi dikemas melalui mimbar bebas. Mahasiswa menyampaikan pandangan dan edukasi kepada masyarakat mengenai persoalan kabut asap yang tidak hanya berkaitan dengan kualitas udara, tetapi juga berdampak terhadap kesehatan dan lingkungan.

Ketua HMI Komisariat Kehutanan Unmul, Ahmad Febrian, mengatakan aksi tersebut menjadi bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi yang tengah dihadapi masyarakat. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menyampaikan kritik, tetapi juga perlu menghadirkan tindakan nyata.

“Kami melihat kondisi udara saat ini bukan sesuatu yang bisa dianggap biasa. Ketika masyarakat mulai terdampak, mahasiswa harus hadir untuk memberikan pencerdasan sekaligus menunjukkan kepedulian melalui tindakan sederhana seperti membagikan masker,” ujar Ahmad.

Ia menegaskan, mimbar bebas yang digelar bukan sekadar ruang untuk menyampaikan suara, melainkan sarana edukasi agar masyarakat semakin memahami persoalan lingkungan yang terjadi.

“Bagi kami, aksi ini bukan hanya tentang berteriak atau menyampaikan keresahan. Ada pesan yang ingin kami sampaikan, bahwa kondisi lingkungan harus menjadi perhatian bersama dan masyarakat berhak mendapatkan informasi serta perlindungan,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, ketiga organisasi mahasiswa itu bergerak bersama meski berasal dari latar belakang organisasi dan bidang keilmuan yang berbeda. Persamaan kepedulian terhadap lingkungan dan keselamatan masyarakat menjadi dasar kolaborasi tersebut.

Ahmad menyebut sinergi mahasiswa menjadi penting ketika persoalan lingkungan membutuhkan perhatian berbagai pihak.

Baca Juga  Upah Pekerja Berau 2026 Menguat, UMK dan UMSK Resmi Naik

“Kami mungkin berasal dari ruang yang berbeda, tetapi keresahan kami sama. Kami ingin menjaga manusia, menjaga lingkungan, dan menyuarakan apa yang memang perlu disampaikan kepada publik,” tuturnya.

Pembagian masker menjadi simbol bahwa kepedulian tidak harus selalu diwujudkan melalui langkah besar. Menurut Ahmad, aksi sederhana dapat menjadi pengingat bahwa masyarakat tidak menghadapi persoalan kabut asap seorang diri.

Ia berharap gerakan tersebut dapat mendorong kepedulian yang lebih luas terhadap lingkungan, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk bersama-sama menjaga kualitas udara.

“Ketika alam sudah memberikan tanda, kita tidak boleh memilih untuk diam. Suara harus menjadi pencerdasan dan kepedulian harus diwujudkan dalam gerakan,” pungkasnya. (*)

banner 728x90
SMSI