BERAU – Pengelolaan destinasi wisata di Kabupaten Berau dituntut tidak hanya mengedepankan daya tarik alam dan pengalaman bagi pengunjung. Aspek keselamatan mulai mendapat perhatian lebih besar, terutama dalam menghadapi potensi bencana yang dapat mengganggu aktivitas wisata.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) berupaya meningkatkan kesiapan para pelaku wisata melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Mitigasi Bencana Tahun 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Grand Parama, Jalan Pemuda, Tanjung Redeb belum lama ini melibatkan 25 peserta yang berasal dari perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di sejumlah wilayah Berau.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan peningkatan kemampuan pelaku wisata dalam menghadapi kondisi darurat menjadi kebutuhan penting. Terlebih, Berau memiliki berbagai destinasi yang ramai dikunjungi wisatawan dan berada di wilayah dengan karakteristik serta potensi ancaman bencana yang berbeda.
Menurutnya, kesiapsiagaan perlu dibangun tanpa mengabaikan cara penyampaian informasi kepada wisatawan. Informasi mengenai potensi bencana harus disampaikan secara proporsional sehingga masyarakat memperoleh pemahaman yang benar tanpa muncul kepanikan.
“Yang paling penting adalah memastikan wisatawan tetap mendapatkan perlindungan dan merasa aman ketika berada di Berau. Informasi mengenai bencana harus kita sampaikan secara tepat, jangan sampai justru membuat orang takut untuk datang,” ujarnya.
Ia menilai edukasi menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko ketika terjadi gangguan lingkungan, termasuk dampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Gamalis meminta masyarakat maupun wisatawan memahami langkah perlindungan diri, khususnya ketika kondisi udara mengalami penurunan akibat asap.
“Edukasi harus terus dilakukan, baik kepada masyarakat maupun wisatawan. Mereka perlu mengetahui bagaimana menjaga kesehatan dan mengambil langkah yang tepat ketika kondisi lingkungan sedang tidak mendukung,” katanya.
Sementara itu, Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa, menjelaskan Bimtek tersebut dirancang untuk membekali pengelola destinasi dengan pengetahuan dasar mengenai mitigasi dan penanganan risiko bencana.
Peserta diarahkan agar mampu mengenali potensi ancaman di lingkungan destinasi sekaligus memahami tindakan yang harus dilakukan sebelum bencana terjadi, ketika situasi darurat berlangsung, hingga proses setelah kejadian.
“Kami ingin peserta tidak hanya mengetahui apa saja jenis bencananya, tetapi juga memahami apa yang harus dipersiapkan dan bagaimana mengambil keputusan ketika terjadi keadaan darurat,” terang Yudha.
Menurutnya, kemampuan tersebut penting karena Pokdarwis dan pengelola destinasi merupakan pihak yang berada paling dekat dengan wisatawan ketika berada di lapangan.
Karena itu, pembangunan sektor pariwisata tidak dapat hanya diukur dari banyaknya destinasi atau jumlah kunjungan. Ketersediaan sistem keselamatan dan kesiapan sumber daya manusia juga menjadi bagian dari kualitas sebuah destinasi.
“Wisatawan tentu menginginkan pengalaman yang menyenangkan, tetapi pada saat yang sama mereka juga membutuhkan kepastian bahwa keselamatan mereka diperhatikan. Ini yang ingin kami bangun melalui peningkatan kapasitas pengelola wisata,” ujarnya.
Disbudpar Berau berharap pengetahuan yang diperoleh selama Bimtek dapat diterapkan oleh masing-masing Pokdarwis di wilayahnya. Dengan demikian, pengelola destinasi diharapkan mampu menjadi bagian dari sistem kesiapsiagaan sekaligus memberikan respons awal apabila terjadi kondisi darurat.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkab Berau mendorong sektor pariwisata yang tidak hanya memiliki daya tarik, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi berbagai risiko sehingga keberlanjutan destinasi dan kenyamanan wisatawan dapat tetap terjaga. (ADV/55)











